Penyakit Anjing Gila: Sejarah, Gejala, Dan Pencegahan

Penyakit Anjing Gila: Sejarah, Gejala, dan Pencegahan

Pendahuluan

Penyakit anjing gila, juga dikenal sebagai rabies, adalah penyakit virus mematikan yang menyerang sistem saraf pusat pada mamalia. Virus ini ditularkan melalui air liur hewan yang terinfeksi, biasanya melalui gigitan. Penyakit ini sangat menular dan berpotensi fatal jika tidak ditangani dengan segera.

Sejarah

Penyakit anjing gila telah dikenal sejak zaman kuno. Catatan tertulis paling awal tentang penyakit ini ditemukan pada prasasti Babilonia yang berasal dari tahun 2300 SM. Penyakit ini juga disebutkan dalam tulisan-tulisan Aristoteles dan Hippocrates.

Pada abad ke-18, seorang dokter Inggris bernama John Hunter melakukan percobaan pada anjing yang mengarah pada penemuan bahwa penyakit anjing gila dapat ditularkan melalui air liur. Pada tahun 1885, Louis Pasteur mengembangkan vaksin rabies pertama, yang secara signifikan mengurangi insiden penyakit ini.

Penyebab

Penyakit anjing gila disebabkan oleh virus rabies, yang merupakan anggota genus Lyssavirus dari famili Rhabdoviridae. Virus ini memiliki selubung lipid yang mengelilingi inti RNA.

Penularan

Virus rabies ditularkan melalui air liur hewan yang terinfeksi. Penularan biasanya terjadi melalui gigitan, tetapi juga dapat terjadi melalui kontak dengan air liur yang terinfeksi melalui luka terbuka atau selaput lendir.

Gejala

Masa inkubasi penyakit anjing gila bervariasi, tetapi biasanya berkisar antara 2-8 minggu. Setelah masa inkubasi, gejala-gejala berikut dapat muncul:

  • Fase Prodromal: Demam, malaise, sakit kepala, mual, dan muntah.
  • Fase Neurologis: Kecemasan, ketakutan terhadap air (hidrofobia), kelumpuhan, dan kejang.
  • Fase Paralitik: Kelumpuhan progresif, koma, dan kematian.

Diagnosis

Diagnosis penyakit anjing gila dapat ditegakkan melalui pemeriksaan fisik, riwayat medis, dan tes laboratorium. Tes laboratorium meliputi:

  • Tes Imunofluoresensi Langsung: Mencari antigen virus rabies dalam jaringan otak.
  • Tes Polimerase Chain Reaction (PCR): Mendeteksi RNA virus rabies dalam air liur atau jaringan.

Pengobatan

Tidak ada pengobatan yang efektif untuk penyakit anjing gila setelah gejala neurologis muncul. Perawatan suportif dapat diberikan untuk meredakan gejala dan meningkatkan kenyamanan pasien.

Pencegahan

Pencegahan penyakit anjing gila sangat penting untuk melindungi manusia dan hewan. Langkah-langkah pencegahan meliputi:

  • Vaksinasi: Hewan peliharaan harus divaksinasi secara teratur terhadap rabies.
  • Kontrol Hewan: Hewan liar harus dikontrol untuk mengurangi risiko penularan.
  • Pengelolaan Luka: Luka gigitan harus segera dibersihkan dan diobati untuk mengurangi risiko infeksi.
  • Karantina: Hewan yang dicurigai terinfeksi rabies harus dikarantina dan diobservasi.

Prognosis

Penyakit anjing gila hampir selalu fatal jika tidak ditangani dengan segera. Namun, jika pengobatan suportif diberikan pada tahap awal, prognosisnya bisa lebih baik.

Dampak pada Kesehatan Masyarakat

Penyakit anjing gila merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang serius, terutama di daerah di mana penyakit ini endemik. Diperkirakan sekitar 59.000 orang meninggal karena rabies setiap tahunnya di seluruh dunia.

Kesimpulan

Penyakit anjing gila adalah penyakit virus mematikan yang dapat berdampak buruk pada manusia dan hewan. Pencegahan sangat penting untuk melindungi kesehatan masyarakat. Dengan vaksinasi rutin, kontrol hewan, dan pengelolaan luka yang tepat, kita dapat mengurangi risiko penularan dan melindungi diri kita sendiri dari penyakit yang mengerikan ini.